Gereja Atau Bisnis ?

Menjadi seorang pemimpin gereja adalah sebuah panggilan mulia yang tidak ada bandingnya dengan jenis panggilan lain di dunia ini, kenapa ? karena menjadi seorang pemimpin gereja atau seorang pelayan Tuhan merupakan panggilan untuk menjadi penuntun bagi umat dimana setiap saat memberikan pedoman-pedoman hidup yang mampu menggugah hati seseorang sehingga ia bertobat.

Tentu hal ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah karena menjadi seorang pelayan harus juga mampu menuntun umatnya untuk tetap berjalan dalam terang kebenaran Firman Tuhan sepanjang hidupnya, dan tugas ini bukan berasal dari manusia namun dari Tuhan sehingga layaklah seorang pemimpin gereja disebut sebagai hamba atau pelayan Tuhan.

Dasar Panggilan Pelayanan

Menjadi pertanyaan bagi kita bahwa menjadi seorang pelayan apakah hanya sekedar memiliki kemampuan berbicara yang baik, punya pengaruh yang besar dalam komunitas gereja, tingkat pendidikan theologi dan memiliki wawasan yang cukup ? Banyak orang keliru dalam mengartikan panggilan pelayanan, menjadi seorang Pelayan selain memenuhi kriteria diatas ada hal paling penting yang harus menjadi dasar utama diantaranya adalah : 

Tanggungjawab dan Ketulusan

Seorang pemimpin gereja haruslah melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggungjawab yaitu melayani dengan penuh ketulusan dan keikhlasan hati sehingga dengan adanya ketulusan seorang pelayan gereja akan terhindar dari pementingan diri sendiri dan memiliki sikap rendah hati sebagaimana ditunjukan oleh Yesus sendiri sebagai teladan yang agung. 

Menjadi Teladan Yang Baik

Yesus memberikan teladan dalam hal kerendahan hati dan berani memberikan teguran keras kepada siapapun yang berbuat salah dalam masa pelayanannya di dunia walaupun akhirnya karena teguran dan sikap tegasnya membuat banyak orang membencinya dan inilah hal penting yang ingin ditunjukan bagi hamba-hamba Tuhan atau Pelayan Tuhan dimanapun.

Memiliki Kerendahan Hati

Terkadang hilang kerendahan hati dari seorang Pelayan sehingga pada kenyataanya banyak Pelayan yang mengharapkan agar diberikan penghormatan atau dihargai lebih, Pelayan kurang memiliki semangat untuk melayani atau memberikan kunjungan atau membesuk jemaatnya yang keadaan ekonominya biasa-biasa saja, bahkan banyak kejadian Pelayan sulit luangkan waktu untuk memberikan pelayanan pastoral untuk rumah tangga sederhana. Pelayan dengan ciri-ciri seperti ini sudah bisa diidentifikasi bahwa tidak memiliki panggilan pelayanan. 

Tidak Mencari Keuntungan

Sangat jelas terlihat ketika seorang pelayan mulai menginginkan hal-hal dunia seperti kemewahan dan materi yang membuatnya terjerumus dalam tujuan pelayanan yang amat salah yaitu tidak menjalankan fungsi utama Firman Tuhan yaitu Mengajar, Menyatakan kesalahan, Memperbaiki kelakuan dan Mendidik orang dalam kebenaran ( 2 Timotius 3 : 16 ). 

Dimana-mana kita bisa amati kondisi pertumbuhan gereja saat ini bisa dikatakan mati suri karena tidak lagi memperhatikan tujuan utama Firman Tuhan. Seorang pendeta akhirnya merubah haluan pelayanan bukan lagi dengan mengutamakan perintah-perintah yang tertulis dalam Alkitab namun orientasi pada Uang dan Materi. 

Sangat sulit kita temukan pendeta berani menegur umatnya yang berbuat salah, terus membiarkan umat yang dipimpinnya hidup didalam kejahatan tanpa berani menyatakan kesalahan dan mendidik dengan Firman Tuhan karena takut kehilangan jumlah umatnya yang menyebabkan kehilangan pemasukan. 

Gereja dibuat seperti tempat untuk show atau pertunjukan yang memukau sehingga setiap orang yang hadir merasakan kepuasan dari pentas itu bukan lagi kepuasan lewat keseluruhan rangkaian ibadah yang penuh hadirat Tuhan lewat pemberitaan Firman. 

Topik yang mendominasi dalam ibadah selalu berbicara soal uang, materi yang dikemas dengan bahasa Alkitab yaitu persembahan. Tentu kita tidak lagi heran karena banyak sekali gereja-gereja yang mempraktekan hal seperti ini dan gereja terlihat seperti Pusat Bisnis bagi seorang pendeta atau pelayan. 

Tidak Bergaya Hidup Mewah

Seorang pendeta dengan percaya dirinya menikmati segalah sesuatu yang dihasilkan dari persembahan umat tanpa merasakan kesusahan yang dirasakan umatnya. Menggunakan segalah fasilitas mewah dan serba ada untuk kepentingan pribadi bahkan seluruh keluarganya dengan alibi untuk kepentingan pelayanan. Bahkan tidak tanggung-tanggung anak-anak disekolahkan di sekolah mewah tanpa peduli umatnya menyekolahkan anak-anaknya dengan susah payah.

Gereja terkadang dijadikan sebagai aset dan sumber penghasilan pribadi sehingga ketika seorang pendeta sudah pada usia yang tua sekalipun masih melakukan kegiatan pelayanan pastoral sambil menunggu ada anggota keluarga yang menggantikannya dan tidak rela digantikan pelayan lain. 

Gereja seperti ini sangat gampang diketahui ciri-cirinya yaitu tidak memiliki manajemen keuangan organisasi karena semua urusan keuangan adalah hak milik pribadi pendeta bahkan gedung gerejapun menjadi milik pribadi bukan organisasi gereja dan inilah hal yang sangat berbahaya bagi perkembangan gereja pada masa yang akan datang.

Lihat Juga Bacaan Tentang : Kekristenan Bukan Tameng 

Nasehat Rohani 

Gereja bukanlah tempat bisnis, gereja juga bukan aset untuk mendapatkan keuntungan dari umat melalui persembahan dan sebagainya untuk memperkaya diri, gereja adalah tempat setiap orang yang percaya berkumpul dan berinteraksi secara rohani untuk mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. 

Jika sebuah gereja hanya dijadikan tempat bersenang-senang, show atau pertunjukan semata sehingga membuat penonton terpukau tanpa mengutamakan kehadiran Tuhan lewat Firman Tuhan maka cobalah berpikir ulang untuk datang kesana. Gereja haruslah menjadi solusi bagi umat dan lingkungan sekitar dalam seluruh bidang hidup secara nyata. 

Semoga  pembahasan ini bisa menginspirasi dan membuat kita lebih jelih dalam menentukan sikap dimanakah seharusnya iman bertumbuh dan membawa pengaruh positif kepada lingkungan sekitar.
Sadutu-Sabhori.com

Subscribe YouTube Kami Juga Ya